Hubungan sepak bola antara Indonesia dan Malaysia kembali memanas, namun kali ini bukan di atas lapangan hijau, melainkan di ranah diplomasi dan isu di balik layar. Sebuah kabar mengejutkan datang dari negeri jiran setelah media MYNewsHub melontarkan tuduhan serius kepada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
Dalam unggahan yang viral di media sosial, media tersebut secara terang-terangan menyebut Erick Thohir sebagai “dalang utama” di balik terbongkarnya skandal pemain naturalisasi palsu yang kini menjerat Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mari kita bedah faktanya.
Tudingan MYNewsHub: Erick Thohir vs Harimau Malaya
Artikel yang diterbitkan oleh MYNewsHub berjudul cukup provokatif: “Erick Thohir Dalang Utama Yang Membuat Aduan Kepada FIFA”. Mereka mengklaim memiliki sumber terpercaya yang menyebutkan bahwa pria yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN tersebut menggunakan pengaruh dan kedekatannya dengan petinggi FIFA untuk membocorkan kejanggalan proses naturalisasi di Malaysia.
Alasannya? Media tersebut menuduh Erick Thohir merasa terancam dengan potensi kebangkitan tim Harimau Malaya.
“Kekecewaan karena peningkatan performa tim Harimau Malaya melampaui kehebatan tim Indonesia diyakini sebagai motif utama di balik tindakan pengajuan pengaduan kepada FIFA,” tulis media tersebut dalam laporannya.
Bahkan, tuduhan merembet ke ranah personal. Erick dituding merasa tidak nyaman dengan intervensi tokoh-tokoh kuat dalam sepak bola Malaysia, termasuk keterlibatan Tunku Mahkota Ismail (TMJ) dari Johor Darul Ta’zim (JDT).
situs qiuqiu 99 agen slot pkv dan bandarq online terpercaya
Fakta di Balik Sanksi FIFA: 7 Pemain Naturalisasi Palsu
Meski tuduhan terhadap Erick Thohir belum terbukti kebenarannya secara resmi, fakta bahwa Malaysia sedang berada dalam “badai” FIFA adalah sebuah kenyataan. Pada September 2025, FIFA secara resmi menjatuhkan hukuman berat kepada FAM setelah ditemukan bukti penggunaan tujuh pemain naturalisasi dengan dokumen palsu.
Hukuman tersebut tidak main-main:
- Larangan Bermain: Ketujuh pemain tersebut sempat dilarang beraktivitas di sepak bola selama 12 bulan (meski belakangan izin bermain mereka mulai ditinjau kembali).
- Denda Finansial: FAM dijatuhi denda dalam jumlah besar yang merobek kas federasi.
- Pengurangan Poin: Ranking FIFA Malaysia merosot drastis setelah poin hasil pertandingan yang melibatkan pemain ilegal tersebut dihapuskan.
Saat ini, Malaysia sedang berupaya membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Namun, banyak pakar hukum olahraga menilai peluang Malaysia untuk menang sangat tipis mengingat bukti yang diajukan FIFA dianggap sangat kuat.
Nasib di Kualifikasi Piala Asia 2027 Berada di Ujung Tanduk
Dampak yang paling menyakitkan bagi publik sepak bola Malaysia adalah nasib tim nasional mereka di Kualifikasi Piala Asia 2027. Jika FIFA tetap pada pendiriannya, ada kemungkinan besar Malaysia akan didiskualifikasi atau dicoret dari kepesertaan turnamen karena dianggap melakukan pelanggaran administrasi yang mencederai integritas kompetisi.
Bagi suporter Harimau Malaya, ini adalah mimpi buruk. Namun bagi media Malaysia, mencari “kambing hitam” seperti Erick Thohir tampaknya menjadi cara untuk mengalihkan isu kegagalan internal federasi dalam memverifikasi pemain.
Mengapa Nama Erick Thohir Terseret?
Kedekatan Erick Thohir dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, memang bukan rahasia lagi. Di bawah kepemimpinan Erick, Indonesia berhasil melobi FIFA untuk tetap menggelar ajang internasional dan meningkatkan kualitas liga. Namun, menghubungkan kedekatan ini dengan pengaduan skandal negara tetangga dianggap oleh banyak pihak di Indonesia sebagai klaim yang mengada-ada atau framing negatif.
Hingga saat ini, pihak Erick Thohir maupun PSSI belum memberikan tanggapan resmi mengenai tuduhan dari MYNewsHub tersebut. Fokus Indonesia saat ini lebih tertuju pada pembenahan skuat Garuda dan persiapan menghadapi kualifikasi turnamen internasional lainnya.
Strategi atau Sekadar Tuduhan Tanpa Bukti?
Dalam dunia sepak bola modern, pengawasan terhadap pemain naturalisasi memang semakin ketat. Kasus yang menimpa Malaysia seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi seluruh federasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk selalu transparan dalam proses hukum pemain keturunan.
Menuding pihak luar atas kegagalan sistem internal federasi sendiri adalah langkah yang berisiko. Jika Malaysia gagal di CAS, posisi mereka di kancah sepak bola internasional akan semakin terpuruk, terlepas dari siapa pun yang memberikan “laporan” awal kepada FIFA.





