Malut Tempuh Jalur Hukum Usai Rasisme Kepada Yance Sayuri

Manajemen Malut United secara resmi mengecam keras tindakan rasisme dan perundungan siber yang menimpa pemain sayap mereka, Yance Sayuri. Insiden ini mencuat setelah laga tunda Super League 2025/2026 antara Malut United melawan Persib Bandung di Stadion Gelora Kie Raha, Minggu (14/12/2025). Meski tim berjuluk Laskar Kie Raha tersebut berhasil meraih kemenangan, kebahagiaan skuad terusik oleh serangan personal yang tidak terpuji di media sosial.

Yance Sayuri menjadi sasaran kebencian menyusul sebuah insiden di lapangan yang melibatkan dirinya dengan kapten Persib, Marc Klok. Friksi tersebut kemudian memicu reaksi berlebihan dari oknum suporter di dunia maya yang mengarah pada penghinaan rasial, sebuah tindakan yang mencederai nilai-nilai sportivitas dalam sepak bola nasional.

Kronologi Insiden Yance Sayuri Di Lapangan yang Berujung Perundungan Siber

Ketegangan bermula di tengah pertandingan yang berlangsung dengan intensitas tinggi. Yance Sayuri terlibat duel fisik dengan Marc Klok dalam perebutan bola. Dalam rekaman yang viral di media sosial, Yance sempat terlihat terpancing emosi dan mengarahkan kepalan tangan ke arah Klok. Namun, pemain asal Papua tersebut segera menyadari konsekuensinya; ia menarik kembali tangannya dan mampu menahan diri sebelum terjadi kontak fisik yang lebih fatal.

Meski tindakan fisik berhasil dihindari, potongan video tersebut kadung menyebar luas. Arus perundungan pun tak terbendung. Yang memprihatinkan, serangan tersebut tidak hanya menyasar aspek teknis permainan, tetapi merembet ke ranah rasialisme. Bahkan, saudara kembar Yance, Yakob Sayuri, yang saat itu tidak bermain karena sedang menjalani sanksi larangan bertanding, turut menjadi korban serangan komentar kebencian.

Thom Haye Viral!! Usai Kritik Kualitas dan Sportivitas Liga Indonesia

Wakil Manajer Malut United, Asghar Saleh, sangat menyayangkan sikap oknum pendukung yang tidak dewasa dalam menyikapi tensi pertandingan. Ia menduga kuat bahwa serangan ini dilakukan oleh oknum pendukung tim lawan yang tidak puas dengan hasil pertandingan.

“Serangan tersebut diduga dilakukan oleh oknum pendukung Persib Bandung usai laga Malut United kontra Persib, ini sangat disesalkan. Kami meminta koordinator Bobotoh untuk menertibkan oknum pendukung seperti ini,” ujar Asghar Saleh sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Antara.

Langkah Tegas Manajemen dan Tuntutan Terhadap Federasi

Manajemen Malut United menyatakan tidak akan tinggal diam melihat pemainnya, terutama Yance Sayuri, terus-menerus menjadi korban perilaku diskriminatif. Bagi manajemen, perilaku rasisme adalah tindakan “kerdil” yang bertolak belakang dengan sejarah besar klub yang terlibat. Menurut Asghar, sepak bola seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa, bukan tempat untuk menyemai perpecahan berbasis suku, agama, atau ras.

Kekecewaan Malut United kian mendalam karena insiden rasisme terhadap Sayuri bersaudara bukanlah yang pertama kali terjadi. Berulangnya kejadian ini menunjukkan adanya celah dalam penegakan aturan serta sanksi bagi para pelaku perundungan di lingkungan sepak bola Indonesia.

“Kami kecam ini. Persib adalah tim besar, tapi perilaku pendukung seperti ini sangat kerdil. Serangan rasis terhadap Yance Sayuri dan juga Yakob Sayuri sudah berulang kali terjadi,” tegas Asghar.

Sebagai bentuk perlindungan terhadap pemainnya, Malut United mengaku telah menempuh langkah formal. Namun, mereka juga melayangkan kritik keras terhadap PSSI dan operator liga yang dianggap kurang responsif dalam menangani kasus rasisme yang menimpa pemain lokal.

“Sudah kami laporkan ke pihak kepolisian, tetapi sampai sekarang federasi terkesan diam. Tidak ada tindakan tegas yang nyata,” tambah Asghar.

Langkah hukum yang diambil oleh Malut United diharapkan dapat memberikan efek jera kepada para pelaku. Manajemen berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas pemilik akun-akun yang menyebarkan ujaran kebencian tersebut. Di sisi lain, kasus ini menjadi ujian bagi federasi untuk membuktikan komitmen mereka dalam kampanye “Anti-Racism” yang selama ini didengungkan di lapangan hijau.

Kini, fokus Malut United adalah menjaga kondisi mental Yance Sayuri agar tetap stabil di tengah tekanan tersebut. Dukungan mengalir dari berbagai pihak agar rasisme segera dihilangkan dari sepak bola Indonesia, demi menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan bermartabat bagi seluruh atlet, tanpa memandang latar belakang mereka.

situs bandarq pkv online deposit sea bank

Related Posts

Tanpa Jay Idzes John Herdman Yakin Indonesia Bisa Juara AFF

JAKARTA – Arsitek anyar Timnas Indonesia, John Herdman, mulai menyusun peta jalan strategis menjelang perhelatan Piala AFF 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juli hingga Agustus mendatang. Di tengah tantangan jadwal…

Curhatan Thom Haye Viral di Instagram Usai Keluarganya Diteror

BANDUNG – Kemenangan krusial Persib Bandung atas rival abadi mereka, Persija Jakarta, dalam laga bertajuk derby Indonesia pada Minggu (11/1/2026) meninggalkan catatan pahit di luar lapangan. Gelandang andalan Maung Bandung,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Tampil Buruk, Semen Padang Datangkan Pemain Asing Baru

  • By admin
  • Januari 14, 2026
  • 1 views
Tampil Buruk, Semen Padang Datangkan Pemain Asing Baru

Tanpa Jay Idzes John Herdman Yakin Indonesia Bisa Juara AFF

  • By admin
  • Januari 14, 2026
  • 3 views
Tanpa Jay Idzes John Herdman Yakin Indonesia Bisa Juara AFF

Curhatan Thom Haye Viral di Instagram Usai Keluarganya Diteror

  • By admin
  • Januari 12, 2026
  • 4 views
Curhatan Thom Haye Viral di Instagram Usai Keluarganya Diteror

Gol Perdana Justin Hubner Jadi Penyelamat Timnya

  • By admin
  • Januari 12, 2026
  • 4 views
Gol Perdana Justin Hubner Jadi Penyelamat Timnya

Elkan Baggott Kembali Dipinjamkan oleh Klubnya

  • By admin
  • Januari 10, 2026
  • 5 views
Elkan Baggott Kembali Dipinjamkan oleh Klubnya

Van Dijk Akui Dirinya Ingin Pensiun Di Liverpool

  • By admin
  • Januari 10, 2026
  • 5 views
Van Dijk Akui Dirinya Ingin Pensiun Di Liverpool