Mantan Kiper The Reds Mohamed Salah Layak Di Jual
Liverpool – Nama Mohamed Salah telah melekat dengan kesuksesan Liverpool dalam satu dekade terakhir. Namun, awal musim ini, sang mega bintang asal Mesir tersebut tampil di bawah ekspektasi, memicu perdebatan tentang masa depannya di Anfield. Statistik menunjukkan penurunan signifikan, dan komentar dari mantan kiper The Reds, David James, menambah bahan bakar spekulasi bahwa klub mungkin perlu mempertimbangkan opsi penjualan.
Performa Mohamed Salah menjadi sorotan tajam. Dari 11 penampilannya di Liga Inggris, ia baru mampu mencetak empat gol, sementara di empat laga Liga Champions, kontribusinya hanya satu gol. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata kontribusinya pada periode yang sama di musim-musim sebelumnya, di mana ia kerap menjadi mesin gol utama bagi Liverpool.
Penurunan ini terjadi di tengah transisi taktis dan manajerial di bawah asuhan Arne Slot. Meskipun tidak ada pemain baru yang secara spesifik disebutkan mengancam posisinya, dinamika di lini serang Liverpool berpotensi berubah. Manajer baru mungkin akan mengevaluasi ulang komposisi tim untuk mencapai efektivitas maksimal, dan performa pemain menjadi penentu utama.
Analisis dari David James: Faktor Statistik dan Usia Mohamed Salah
David James, yang pernah memperkuat Liverpool dari 1992 hingga 1999, memberikan pandangan yang tajam mengenai situasi ini. Menurutnya, dunia sepak bola profesional sangat kejam, di mana statistik seorang pemain menjadi ukuran utama nilai mereka, terlepas dari status legenda yang mereka miliki.
“Saya pikir jika saatnya tiba, Salah dan Liverpool akan duduk bersama membahas masa depan mereka. Sebab ujung-ujungnya, pemain dinilai dari statistik mereka,” jelas James kepada Daily Mail.
baca juga : Kevin Diks Bangga Wakili Indonesia Bermain di Bundesliga
Pernyataan ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kontrak panjang bukanlah jaminan mutlak. Meskipun Mohamed Salah baru saja memperpanjang kontraknya hingga musim panas 2027, penurunan performa yang berkepanjangan bisa memaksa klub untuk mengambil keputusan sulit. James menilai bahwa Liverpool tidak akan segan-segan melepasnya jika tawaran yang menggiurkan datang dan performanya tidak kembali ke level terbaik.
Kontrak Baru dan Minat dari Arab Saudi Untuk Mohamed Salah
Keputusan Liverpool untuk memberikan kontrak baru kepada Mohamed Salah pada tahun lalu adalah sinyal kuat komitmen klub. Namun, situasi saat ini menunjukkan bahwa komitmen tersebut diuji. Usia Salah yang sudah menginjak 33 tahun juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Seiring bertambahnya usia, pemain secara alami akan mengalami penurunan fisik dan kecepatan.
Di sisi lain, minat dari klub-klub Arab Saudi terhadap Mohamed Salah bukanlah isu baru. Liga tersebut telah gencar mendatangkan bintang-bintang top Eropa dengan tawaran finansial yang sangat besar. James meyakini bahwa faktor ini akan terus menjadi latar belakang, memberikan Salah dan Liverpool opsi jika hubungan kerja sama di masa depan tidak lagi menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Dilema Liverpool: Antara Loyalitas dan Kebutuhan Tim
Liverpool kini berada di persimpangan jalan. Menjual ikon seperti Mohamed Salah adalah keputusan yang tidak populer dan berisiko menyakiti perasaan fans. Namun, jika produktivitasnya terus menurun, mempertahankannya bisa menjadi beban finansial dan taktis bagi tim di jangka panjang.
David James menambahkan bahwa Liverpool kemungkinan besar akan memberikan waktu sepanjang musim ini kepada Salah untuk membuktikan diri. The Reds tidak akan gegabah menjualnya pada bursa transfer Januari. Namun, jika pada akhir musim performanya belum membaik dan ada tawaran konkret, Liverpool bisa berubah pikiran.
“Jika Salah bisa kembali ke performa terbaik, maka Liverpool akan membutuhkannya. Namun jika nantinya tetap ada klub peminat yang memberikan penawaran bagus, Liverpool pasti sulit untuk menolaknya,” kata James.
Saat ini, nilai pasar Mohamed Salah diperkirakan mencapai 45 juta Euro atau sekitar Rp 872 miliar. Angka ini bisa terus menurun seiring bertambahnya usia dan kontraknya yang makin pendek. Bagi Liverpool, ini adalah perhitungan bisnis yang rumit: menjualnya sekarang dengan harga tertentu atau mempertahankannya dengan risiko nilai jualnya anjlok di kemudian hari.
Pada akhirnya, bola berada di lapangan Mohamed Salah. Ia harus membuktikan bahwa ia masih merupakan aset yang tak ternilai bagi Liverpool dan bahwa usianya tidak mempengaruhi kemampuannya untuk terus berada di puncak permainan. Beberapa bulan ke depan akan menjadi periode krusial bagi sang bintang untuk membungkam keraguan dan mengamankan warisannya di Anfield.






