Kutukan akhir musim tampaknya mulai membayangi Arsenal. Setelah tampil dominan hampir di sepanjang musim 2025/2026, armada asuhan Mikel Arteta kini menghadapi ujian mental yang sangat berat. Hasil imbang dramatis 2-2 saat bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers (Wolves) pada Kamis (19/2/2026) dini hari WIB, menjadi sinyal kuat bahwa takhta pemuncak klasemen sedang tidak baik-baik saja.
Bagi para fans setia Meriam London, situasi ini tentu membuat jantung berdegup kencang (dag-dig-dug). Bayang-bayang kegagalan di tiga musim terakhir, di mana mereka selalu finis sebagai runner-up, kini kembali muncul ke permukaan.
Statistik Mengkhawatirkan: Arsenal Kehilangan 11 Poin di Tahun 2026
Memasuki tahun kalender 2026, performa Arsenal justru mengalami tren penurunan yang signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun dari BBC, Martin Odegaard dkk telah kehilangan 11 poin hanya dalam delapan pertandingan terakhir. Dua laga pamungkas yang berakhir dengan hasil seri berturut-turut menunjukkan adanya celah dalam pertahanan maupun penyelesaian akhir mereka.
Saat ini, Arsenal memang masih duduk di posisi puncak dengan koleksi 58 poin dari 27 laga. Namun, napas Manchester City sudah terasa di tengkuk mereka. Sang juara bertahan membayangi di posisi kedua dengan 53 poin, namun mereka baru memainkan 26 laga.
Secara matematis, jika City mampu memenangkan satu tabungan laga mereka, selisih poin hanya akan menyisakan dua angka saja. Dengan sisa 11 pertandingan sisa, margin sekecil itu sama sekali tidak memberikan rasa aman bagi Arsenal.
Bukayo Saka: Kami Menurunkan Standar!
Bintang muda Arsenal, Bukayo Saka, tidak menutupi rasa kecewanya usai laga kontra Wolves. Pemain sayap Timnas Inggris ini mengakui bahwa timnya kehilangan ketajaman dan disiplin yang sempat mereka tunjukkan di awal musim.
baca juga : Jay Idzes Tampil Apik Bawa Sassuolo Benamkan Hellas Veron
“Kami menurunkan standar permainan kami sendiri, dan akhirnya kami dihukum oleh hasil. Saya tidak bisa bicara banyak, hasil hari ini sangat mengecewakan,” ujar Saka dalam sesi wawancara usai laga.
Ketika ditanya mengenai tekanan dari Manchester City yang kian merapat, Saka memilih untuk bersikap pragmatis. Ia tidak ingin terjebak dalam perang urat saraf atau terlalu fokus pada papan klasemen.
“Kami hanya fokus pada diri kami sendiri. Tugas kami adalah meningkatkan standar dan performa tim kembali ke level tertinggi. Itulah satu-satunya hal yang bisa kami kontrol saat ini,” tegasnya.
Menanti Akhir Puasa Gelar 22 Tahun Arsenal
Sejarah adalah beban yang cukup berat bagi Arsenal. Terakhir kali klub London Utara ini mencicipi trofi Premier League adalah pada tahun 2004—era legendaris The Invincibles. Artinya, sudah 22 tahun publik Emirates Stadium menantikan trofi liga kembali ke pelukan mereka.
Setelah tiga musim beruntun hanya menjadi “pendamping” juara di peringkat kedua, musim ini dianggap sebagai kesempatan terbaik. Secara jadwal, Arsenal memang masih diunggulkan. Namun, ada satu tanggal yang sudah dilingkari merah oleh seluruh pecinta sepak bola dunia: 18 April 2026.
Pada tanggal tersebut, Arsenal akan bertamu ke markas Manchester City di Etihad Stadium. Mengingat pertemuan pertama di Emirates berakhir imbang 1-1, laga di April mendatang diprediksi akan menjadi “final dini” yang menentukan siapa yang layak mengangkat piala di akhir musim.
Skenario 11 Laga Sisa
Mikel Arteta harus segera menemukan formula untuk membangkitkan mentalitas pemenang skuatnya. Mengandalkan penguasaan bola saja tidak cukup jika pertahanan masih mudah ditembus lewat serangan balik, seperti yang diperlihatkan Wolves.
Apakah Arsenal akan kembali tergelincir di tikungan terakhir, ataukah mereka mampu membuktikan bahwa Meriam London kali ini sudah jauh lebih dewasa dan siap meledak hingga garis finis?
Bagaimana Prediksi Anda, Apakah Arsenal Akan Terpeleset Lagi?
Apakah hasil imbang lawan Wolves hanya kerikil kecil, atau justru awal dari runtuhnya dominasi Arsenal musim ini? mampukah Arteta meredam kekuatan Manchester City di pertemuan bulan April nanti?





