Kejutan besar mewarnai lanjutan fase grup Liga Champions musim 2025/2026. Raksasa Inggris, Manchester City, harus pulang dengan tangan hampa setelah ditaklukkan oleh wakil Norwegia, Bodo/Glimt, dengan skor mencolok 3-1. Pertandingan yang berlangsung di Aspmyra Stadium pada Rabu (21/1) dini hari WIB tersebut menjadi bukti bahwa dominasi taktis tim papan atas Eropa mulai mendapatkan tantangan serius dari tim-tim kuda hitam.
Hasil ini memperpanjang tren negatif bagi anak asuh Pep Guardiola. Kekalahan di Norwegia terjadi hanya beberapa hari setelah Manchester City dipaksa menyerah 0-2 dalam laga bertajuk Derby Manchester melawan Manchester United di kompetisi domestik. Kegagalan meraih poin di dua laga penting secara berturut-turut memicu spekulasi mengenai stabilitas performa lini belakang dan efektivitas lini tengah The Citizens musim ini.
Dominasi Taktis Bodo/Gllmt dan Rapuhnya Pertahanan Manchester City
Sejak peluit pertama dibunyikan, Bodo/Glimt menunjukkan keberanian dengan tidak membiarkan Manchester City mengembangkan permainan operan pendek yang menjadi ciri khas mereka. Strategi tuan rumah membuahkan hasil dalam tempo yang sangat cepat. Penyerang Bodo/Glimt, Kasper Hogh, menjadi bintang utama dengan mencetak dua gol dalam kurun waktu dua menit, yakni pada menit ke-22 dan ke-24.
baca Juga : Ijin Dicabut Pemegang Saham Toba Pulp Gigit Jari
Dua gol cepat tersebut tampak mengguncang mentalitas para pemain Manchester City. Meskipun menguasai penguasaan bola secara statistik, aliran serangan City sering kali terhenti di sepertiga akhir lapangan akibat disiplinnya barisan pertahanan lawan. Memasuki babak kedua, situasi justru semakin memburuk bagi tim tamu. Pada menit ke-58, Jens Hauge melepaskan sepakan melengkung indah dari luar kotak penalti yang gagal dihalau oleh penjaga gawang City, memperlebar keunggulan menjadi 3-0.
Manchester City sempat memberikan harapan melalui gol Rayan Cherki dua menit berselang yang memperkecil kedudukan menjadi 3-1. Namun, momentum kebangkitan tersebut sirna seketika pada menit ke-62. Gelandang jangkar andalan City, Rodri, harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu kuning kedua akibat pelanggaran keras. Bermain dengan 10 orang melawan tim yang mengandalkan kolektivitas tinggi membuat Manchester City tak berdaya hingga laga berakhir.
Analisis Kjetil Knutsen: Mengeksploitasi Celah di Lini Tengah City
Keberhasilan Bodo/Glimt menumbangkan salah satu kandidat juara Liga Champions ini tidak lepas dari kejelian sang pelatih, Kjetil Knutsen. Dalam konferensi pers pascapertandingan, Knutsen secara terbuka mengungkapkan bahwa pihaknya telah mempelajari secara mendalam kelemahan struktur permainan Manchester City. Menurutnya, kunci kemenangan ini adalah dengan menutup ruang di sektor tengah dan melancarkan serangan balik yang sangat efisien.
“Luar biasa, kami bermain bagus dan kami tahu mereka adalah tim kelas dunia. Kami harus bertahan dengan sangat baik dan tidak memberikan mereka banyak ruang di tengah,” ujar Knutsen sebagaimana dilansir dari situs resmi UEFA.
Knutsen menekankan bahwa kolektivitas 11 pemain dalam fase bertahan menjadi fondasi utama. Dengan memutus aliran bola City sejak dari lini tengah, Bodo/Glimt mampu menciptakan situasi transisi yang mematikan. “Kami bekerja sama, semua pemain bertahan dengan bagus. Saat kami memenangkan bola di posisi yang menguntungkan, kami langsung melancarkan serangan balik cepat,” tambahnya.
Kekalahan ini menuntut Pep Guardiola untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Absennya Rodri di laga mendatang akibat kartu merah dipastikan akan menjadi lubang besar bagi Manchester City. Selain itu, koordinasi antara lini belakang dan tengah yang tampak rentan terhadap serangan balik cepat menjadi prioritas yang harus diperbaiki jika The Citizens ingin menjaga peluang mereka di kancah Eropa maupun domestik musim ini.
Kini, Manchester City harus segera mengalihkan fokus untuk memutus tren kekalahan ini guna mengembalikan kepercayaan diri skuad. Sementara bagi Bodo/Glimt, kemenangan bersejarah ini menjadi modal berharga sekaligus pembuktian bahwa strategi yang matang dapat menumbangkan kekuatan finansial dan talenta individu kelas dunia.






