Gelandang asing Persib Bandung, Thom Haye, menyampaikan kritik terbuka mengenai kualitas pertandingan di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League. Pemain yang baru bergabung dengan skuad “Maung Bandung” pada awal musim ini menyoroti kebiasaan sejumlah pemain lawan yang dianggap sengaja melakukan tindakan tidak sportif untuk membuang-buang waktu pertandingan (time-wasting).
Keresahan Thom Haye ini muncul ke permukaan setelah ia merasakan langsung dinamika permainan di tanah air yang dinilainya sangat kontras dengan standar waktu efektif di kompetisi Eropa. Menurutnya, fenomena ini merupakan masalah serius yang tidak hanya terjadi dalam satu pertandingan saja, melainkan telah menjadi tren negatif yang merusak citra liga secara keseluruhan.
Keluhan Thom Haye Mengenai Minimnya Waktu Efektif Bermain
Sorotan Thom Haye memuncak pasca-pertandingan terakhir saat Persib Bandung takluk 0-2 dari Malut United. Dalam laga tersebut, ia mengamati banyaknya momen penghentian laga yang tidak perlu, terutama ketika tim lawan berada dalam posisi unggul. Pemain yang pernah berkarier di Almere City dan Heerenveen ini merasa frustrasi karena ritme permainan sering terhenti akibat pemain lawan yang sering terjatuh dan berlama-lama di lapangan.
“Saya mau mengatakan sesuatu. Ini bukan hanya satu hari ini saja, tapi untuk liga seutuhnya. Sebagai contoh, hari ini bisa Anda lihat berapa lama waktu injury time yang diberikan dibandingkan dengan kejadian di lapangan,” ujar Thom Haye.
baca artikel lainnya : Thom Haye Viral!! Usai Kritik Kualitas dan Sportivitas Liga Indonesia
Lebih lanjut, Thom Haye menekankan bahwa situasi ini sangat merugikan bagi tim yang sedang berupaya mengejar ketertinggalan skor. Dengan durasi waktu efektif yang rendah, upaya teknis dan taktis untuk membalikkan keadaan menjadi terhambat oleh faktor non-teknis yang seharusnya bisa diminimalisir oleh ketegasan wasit atau kesadaran sportivitas pemain.
“Di babak kedua, berapa lama pertandingan ini terhenti? Tim yang unggul di laga ini beberapa kali tergeletak di lapangan dan membuang-buang waktu secara sengaja,” tambahnya dengan nada kecewa.
Dampak Negatif Strategi Buang Waktu Terhadap Kualitas Liga
Bagi seorang pemain profesional yang terbiasa dengan intensitas tinggi, Thom Haye menilai durasi aktif di lapangan merupakan hal sakral. Ia memperkirakan bahwa dalam satu pertandingan, jumlah waktu yang hilang akibat drama di lapangan bisa mencapai angka yang signifikan, yang mana seharusnya waktu tersebut digunakan untuk menyuguhkan tontonan sepak bola yang berkualitas bagi para suporter.
“Mungkin kami kehilangan sekitar 20 menit di lapangan. Sebagai pemain, semua ingin bermain sepak bola, memainkan permainan yang bagus. Namun sekarang, bukan hanya di sini, tapi di pertandingan lain, ada pihak yang ingin merusak permainan dengan cara seperti itu,” tutur Thom Haye.
Eks pemain timnas junior Belanda ini mengajak para pemangku kepentingan untuk melihat statistik pertandingan secara mendalam. Ia menantang untuk mengecek perbandingan antara waktu pertandingan aktif berjalan dibandingkan dengan total durasi laga di babak kedua. Menurutnya, pemberian tambahan waktu (injury time) oleh perangkat pertandingan seringkali tidak sebanding dengan total waktu yang terbuang.
“Bisa dicek hari ini berapa lama waktu pertandingan aktif berjalan di babak kedua dan berapa lama injury time diberikan. Sebagai pemain, semuanya ingin bermain dan tidak mungkin bisa berkembang dengan cara bermain seperti ini,” tegasnya.
Kritik yang dilontarkan Thom Haye ini secara tidak langsung menyentuh aspek kualitas mentalitas pemain di Liga Indonesia. Jika kebiasaan membuang waktu tetap dibiarkan dan menjadi bagian dari strategi “normal” untuk meraih kemenangan, maka level kompetitif liga sulit untuk bersaing di tingkat regional maupun internasional.
Harapannya, pernyataan jujur dari pemain sekelas Thom Haye dapat memicu evaluasi dari penyelenggara kompetisi dan wasit untuk lebih tegas dalam menegakkan aturan mengenai fair play. Dengan peningkatan waktu efektif bermain, kualitas pertandingan akan meningkat, yang pada akhirnya akan menguntungkan perkembangan bakat-bakat lokal dan memberikan hiburan yang lebih layak bagi pecinta sepak bola Indonesia.






